Al-Qur’an dan Sains

Berawal dari cerita seorang teman di facebook, tentang seorang programmer yang menjadi murtad karena menganggap telah menemukan kesalahan pada Al-Qur’an sehingga menyebabkan dia menganggap bahwa Al-Qur’an adalah buatan manusia. Dia menyebut Al-Qur’an pada surah Al-Kahf ayat 86 http://quran.com/18/86 dimana disebutkan bahwa Matahari terbenam ke dalam air berlumpur merupakan kesalahan fatal Al-Quran dalam menjelaskan proses terjadinya siang dan malam.

Saya tidak akan membahas pembelaan tentang ayat tersebut karena sudah banyak jawaban terhadap pertanyaan seperti ini sebelumnya, ya tentu saja sudah ada yang pernah bertanya dan sudah ada yang menjawab dengan jelas. Yang saya akan bahas adalah seringnya Al-Qur’an dijadikan rujukan sains tanpa memahami konteks bahwa Al-Qur’an bukanlah sebuah kitab/buku Sains. Al-Qur’an tidak akan menjelaskan secara detail seperti menjelaskan 1+1 = 2, karena pada perkembangannya ternyata 1+1 itu bisa saja 2 atau 10. Jika ingin belajar ilmu ini maka bukalah buku matematika diskrit atau teknik digital.

Jadi apakah ini akan mematahkan bahwa Al-Qur’an tidak sesuai sains dan tidak mengikuti perkembangan jaman? ya tentu tidak. Al-Qur’an menyuruh kita membaca/belajar dan berpikir sesuai konteks. Bahwa pernyataan A tidak harus selalu A untuk semua kasus. Bahwa kita juga harus belajar ilmu sains dengan benar dan menghargai para ilmuwan walaupun non-muslim sekalipun, sehingga pikiran kita lebih terbuka, mau belajar dan berkembang. Apakah ini sebabnya teknologi kita tertinggal jauh? Ya. Apakah Islam lebih menganjurkan kita mendalami ilmu agama dibanding teknologi karena teknologi hanya urusan dunia yang tidak lebih penting dari urusan akhirat? Ya tidak, bagaimana jadinya kita beribadah haji dengan nyaman jika tidak ada teknologi pesawat terbang atau teknologi komunikasi yang memadai?

http://www.understanding-islam.com/q-and-a/miscellaneous-issues/regarding-al-kahaf-18-86-a-scientific-error-5198