Bepenghasilan tetap atau tetap berpenghasilan?

Anda ingin digaji berapa per bulan? pertanyaan ini juga sering ditanyakan pada saat wawancara kerja di perusahaan. Bagi yang sudah siap mungkin sudah mencari bocoran dari karyawan yang sudah bekerja di perusahaan itu, meskipun yang ngasih bocoran juga kadang malu-malu dan hanya menjawab di kisaran berapa, karena urusan gaji itu sangat sensitif di dunia kerja kantoran, betul? ūüėÄ

Nah jika ditanya apakah anda ingin berpenghasilan tetap atau tetap berpenghasilan? biasanya jawaban bisa sangat bervariasi. Ada yang dengan mantap ingin punya penghasilan tetap perbulan sehingga selalu merasa aman dan punya kepastian slip gaji. Slip gaji ini bisa bermanfaat untuk keperluan lain seperti kredit kendaraan atau rumah.

Berbeda dengan yang bermental pengusaha, mereka lebih memilih berpenghasilan tidak tetap, bisa kecil tetapi punya peluang untuk besar. Tapi pengusaha tidak memikirkan besar atau kecilnya penghasilan per bulan, karena besar atau kecil itu sangat relatif dan sangat bergantung pada gaya hidup. Jika anda bergaya hidup sederhana, maka penghasilan 4 juta / bulan itu sudah besar. Sedangkan jika anda bergaya hidup mewah, penghasilan 12 juta / bulan pun mungkin masih terasa kecil.

Saya sebagai freelancer mungkin mirip2 pengusaha walaupun tidak sepenuhnya sama karena freelancer itu masih bekerja kepada orang/klien sedangkan pengusaha adalah yang menyediakan pekerjaan bagi kami. Bedanya dengan pekerja biasa, freelancer tidak terikat pada satu orang bos, bahkan bisa bekerja untuk banyak klien, jadi penghasilan bisa bervariasi. Dan dari pengamatan saya, penghasilan freelancer sangat berhubungan dengan skill dan jam terbang.

Seorang kawan freelancer membuat tools untuk membuat rekap grafik penghasilan yang sangat membantu sehingga saya bisa melihat grafik penghasilan saya dari tahun 2011-2014 (2009-2010 masih galau.. hihi)

Grafik penghasilan tahun 2011:

Grafik tahun 2012:

Grafik tahun 2013:

 

Grafik tahun 2014 :

Alhamdulillah, penghasilan saya tidak tetap..

Investasi untuk belajar

Saya akan coba bercerita tentang bagaimana pengorbanan saya dulu untuk bisa belajar pemrograman. Mulai dari awal kuliah sampai sekarang tetap berusaha belajar hal-hal yang berkaitan dengan komputer, khususnya pemrograman.

Waktu awal kuliah, saya tidak pernah bercita-cita untuk menjadi seorang programmer, bahkan dulu cita-cita saya masih kabur alias belum jelas. Tapi semua itu berubah ketika saya masuk kuliah di kampus yang sangat dekat dengan perkembangan teknologi, STT Telkom (sekarang sudah menjadi Telkom University). Mungkin juga memang sudah takdirnya saya bertemu dengan orang-orang yang maniak komputer, mulai dari yang jago ngoprek hardware sampai dengan orang yang suka ngejahilin komputer teman sendiri, and it was fun! :D. Nilai kuliah semester pertama saya lumayan hancur, asik dengan dunia yang baru bermodalkan komputer yang dibeli dari uang kiriman almarhum bapak saya. Satu-satunya mata kuliah yang dapat A cuma pemrograman, ya ini bisa dihitung pengorbanan pertama saya di dunia pemrograman (padahal malas belajar pas awal kuliah :D).

Bahasa pemrograman yang saya pakai waktu kuliah masih PHP, sempat mencoba Pascal, Delphi, Visual Basic, C, C++, Java. Tapi yang dipakai tetap PHP, walaupun proyek akhir saya pakai C++ untuk ngoprek Symbian OS (sok keren :p) ditambah pengetahuan tentang SQL menggunakan MySQL, SQL Server, dan sedikit belajar Oracle. Perjuangan untuk belajarpun tidak mudah, saya rajin bolak-balik perpustakaan buat menyalin buku dengan mesin foto-kopi, karena gak ada laptop untuk dipakai di perpus (laptop hanya untuk orang yang kaya banget waktu itu), dan kalau beli buku harganya mahal. Saya salin bagian-bagian yang saya anggap penting dan langsung dipraktekkan di komputer sendiri. Ada kalanya saya membeli buku di Palasari karena bukunya belum ada di perpustakaan. Tapi tetap, perpustakaan kampus sumber pertama dimana saya belajar pemrograman. Duit saya banyak habis untuk foto-kopi dan beli buku di palasari.

Lulus kuliah saya sempat bekerja di Jakarta selama hampir 2 tahun, lalu balik lagi kuliah di Bandung. Selama bekerja frekuensi beli bukunya berkurang, lebih fokus nyari duit ūüėÄ

Saya mulai kenal pemrograman Ruby ketika melanjutkan kuliah. Setelah mencari-cari peluang mendapatkan penghasilan sambil bisa kuliah, akhirnya bertemu dengan komunitas Ruby dan dapat info tentang situs freelancer Odesk. Waktu itu belum fokus di Odesk, masih proyekan PHP sambil belajar Ruby.

Kala itu sumber daya untuk belajar Ruby tidak sebanyak PHP, dan semuanya masih berbahasa Inggris. Bolak-balik saya cari tutorial Ruby yang ada cuma sedikit tulisan dari mas Arie Kusuma Atmaja. Mau baca buku yang berbayar, perekonomian belum mendukung, akhirnya download yang bajakan. Baru setelah saya mulai mendapatkan pekerjaan hourly di Odesk, saya rajin membeli buku-buku itu, buku yang sudah pernah saya download secara gratis pun saya beli lagi, walaupun tidak semuanya.

Efek dari membeli buku lebih terasa dibanding hanya mendownload gratis karena kalau mendownload gratis akan menumpuk di komputer saja, hanya dikoleksi dan tidak dibaca. Lebih termotivasi untuk mempraktekkan apa yang sudah dibeli dengan uang sendiri. Kalau perlu buku itu dicetak lagi buat dibaca offline. Sampai sekarang saya masih suka membeli buku secara cetak di gramedia ataupun online, bahkan sekarang suka beli kursus-kursus online. Kursus pertama yang saya ikuti itu di Railscasts punya Ryan Bates seharga $9/bulan, ini menjadi sumber yang sangat penting untuk belajar Ruby / Rails karena topiknya sangat update dengan perkembangan Ruby / Rails. Setiap ada versi Rails yang baru meskipun masih RC (Release Candidate), sudah dibuat tutorial untuk fitur barunya. Sangat membantu untuk belajar karena penjelasannya mudah dimengerti dan dalam bentuk video. Sayang Ryan Bates memutuskan untuk vakum membuat tutorial tanpa waktu yang pasti.

Sampai sekarang saya masih rajin membeli buku online dan subscribe kursus. Saya juga sempat subscribe di beberapa situs lain termasuk udemy dan toko online dimana saya rajin membeli buku adalah https://pragprog.com/.

Harga bukunya bervariasi dari $10-$25 per buku/video, jadi kalau dihitung dalam bentuk uang mungkin sudah sangat banyak karena itu yang penerbit lokal belum dihitung ataupun dari sumber lain.

Jadi belajar itu juga bentuk Investasi, investasi waktu, tenaga dan uang. Hargailah penulis buku dan pembuat video tutorial yang dengan baik hati membagi ilmu dan pengalamannya, karena mereka pastinya juga sudah berinvestasi sebelum bisa seperti itu.